Sumber: Google

 

Uruguay dikenal sebagai salah satu negara penghasil penyerang yang terkenal di seluruh dunia. Nama-nama besar seperti Luis Suarez, Edinson Cavani, Diego Forlan, adalah salah tiga dari pemain-pemain Uruguay yang terkenal karena performa cemerlang-nya di lapangan. Uruguay tentu saja adalah negara yang meraih beberapa capaian tertinggi di dunia sepakbola. Ia merupakan negara pertama yang menjuarai ajang Piala Dunia yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1930. Selain itu, di ajang lain seperti Copa America, Uruguay sudah menjuarai-nya sebanyak 4 kali. Kesuksesan Uruguay dalam mencapai gelar-gelar tersebut tentu saja memiliki rahasia serta formula tersendiri. Negara yang hampir tidak pernah absen pada ajang Piala Dunia ini, memiliki filosofi bermain yang unik dan kadang tidak bisa dijelaskan bagaimana oleh pemain yang menerapkan filosofi tersebut.

Garra Charrua, adalah sebuah hal yang sangat tidak asing bagi rakyat Uruguay yang menggemari dan menjalankan sepakbola di kesehariannya. Apa sebenarnya Garra Charrua itu? Garra Charrua bisa dikatakan sebagai filosofi permainan sepakbola ciri khas Uruguay yang dimana mengandalkan keuletan, kegigihan, dan kombinasi dari sepakbola jalanan. Intinya, Garra Charrua membentuk sebuah filosofi dimana para pemain di lapangan harus berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan. Filosofi bermain tersebut sudah membentuk culture di sepakbola Uruguay sendiri. Pamor dari Garra Charrua di Uruguay sudah setara dengan Jogo Bonito yang dimiliki oleh Brazil. Tidak salah apabila filosofi bermain ini hingga sekarang masih kental dimiliki oleh pemain-pemain Uruguay yang berkancah di dunia sepakbola.

Tetapi, pamor Garra Charrua sempat redup setelah tahun 1950-an. Dimana kala itu Uruguay takluk oleh Hungaria pada ajang Piala Dunia 1954. Kekalahan Uruguay saat itu membuat identitas sepakbola Uruguay memudar dengan Garra Charrua-nya. Gaya permainan Uruguay sempat dikenal dengan permainan yang agresif dan kasar, membuat Uruguay dicap sebagai tim yang sebelah mata tidak sesangar tahun 1930-1950. Contoh singkat bagaimana kasar dan agresif-nya permainan Uruguay saat memudarnya filosofi Garra Charrua bisa dilihat dari Piala Dunia 1986. Saat Uruguay menjalani pertandingan fase grup terakhir kala itu, 56 detik pertandingan baru dimainkan Uruguay harus kehilangan satu pemainnya karena melakukan tekel keras. Di pertandigan sebelumnya pun saat menghadapi Denmark, Uruguay juga harus bermain dengan sepuluh orang sebelum paruh istirahat pertandingan. Dari cerita bagaimana kasar dan agresif-nya permainan Uruguay sebelumnya, menggambarkan bahwa negara ini kehilangan filosofi asli permainannya.

Masa-masa kelam sepakbola Uruguay perlahan mulai menunjukkan titik terang, saat nama Oscar Tabarez muncul. Saat menjabat kembali sebagai pelatih kepala Timnas Uruguay pada tahun 2006, Tabarez seolah mengembalikan Garra Charrua yang sempat hilang dari Uruguay. Ia memadukan filosofi semangat permainan Garra Charrua dengan kombinasi pemain-pemain muda yang dimiliki oleh Uruguay. Ia meyakinkan pemainnya bahwa mereka memiliki amarah dan intensitas yang lebih besar dari lawan yang mereka hadapi. Garra Charrua seolah menjadi senjata rahasia yang dimiliki Oscar Tabarez untuk mengembalikan masa kejayaan Uruguay di internasional. Pada tahun 2010, bukti nyata Garra Charrua racikan Oscar Tabarez mulai menunjukkan hasil yang positif, Uruguay menembus babak semifinal setelah kali terakhir berada di babak semifinal pada tahun 1970. Walaupun tidak mendapat gelar juara, progress kemajuan Uruguay dibawah asuhan Oscar Tabarez menunjukkan hasil yang semakin baik. Di tahun selanjutnya, Uruguay menjuarai Copa America di Argentina setelah mengalahkan Paraguay di final dengan skor telak 3-0. Selain itu, Uruguay juga memenangkan Fair Play Team Award di ajang tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa hasil kerja keras Tabarez untuk mengubah Uruguay menjadi tim yang “menakutkan” mulai berhasil secara perlahan.

Hingga saat ini, Uruguay masih menjadi tim yang dijuluki sebagai “kuda hitam” karena memiliki potensi untuk memberi kejutan pada ajang internasonal. Banyak juga pemain-pemain muda dan berbakat yang mulai bermunculan, nama-nama seperti Diego Laxalt, Rodrigo Bentancur, Jose Maria Gimenez, Nahitan Nandez, Facundo Pellistri, dan lain-lain turut menghiasi susunan pemain di skuad Uruguay saat ini. Sang ikon seperti Luis Suarez, Edinson Cavani, Diego Godin juga masih tergabung dalam skuad pilihan Tabarez. Perjalanan Uruguay tentu saja masih panjang, dan tantangan bagi skuad Uruguay semakin berat. Sebagai penutup, Garra Charrua akan selalu menjadi ciri yang akan mengilhami permainan dari Uruguay.

 

Penulis Oleh Gilang Indana (FISIP’19, Antropologi)

Sumber:

  1. https://www.panditfootball.com/cerita/213645//201008/garra-charrua-identitas-sepakbola-uruguay
  2. https://thesefootballtimes.co/2018/06/20/how-oscar-tabarez-used-philosophy-and-garra-charrua-to-return-uruguay-to-the-top-table/
  3.  https://thesefootballtimes.co/2020/08/12/garra-charrua-and-the-psychology-of-uruguayan-football/

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *