Pada 26 Februari kemarin, diperingati memori kelam bagi Timnas Indonesia yang memperingati hampir lolosnya skuat garuda ke putaran final cabang olahraga sepakbola pada Olimpiade tahun 1976 yang diadakan di Montreal, Kanada. Dengan didatangkannya pelatih kondang Wiel Corver yang sebelumnya berhasil membawa Feyenoord  menjuarai Piala UEFA di tahun 1974, skuat garuda saat itu diberikan persiapan yang sangat matang dan target yang tinggi yaitu lolos ke putaran final Olimpiade Montreal 1976.

Berada satu grup pada babak kualifikasi dengan Korea Utara, Malaysia, Singapura, Papua Nugini, dan Malaysia. Indonesia dapat dikatakan cukup diunggulkan di grup ini dengan torehan berikut :

Indonesia 0 – 0 Singapura

Indoneisa 8 – 2 Papua Nugini

Indonesia 1 – 2 Korea Utara

Indonesia 2 – 1 Malaysia

Dari hasil tersebut, maka digelarlah laga final antara Korea Utara melawan Indonesia untuk memperebutkan tiket menuju Montreal pada tanggal 26 Februari 1976.

Dengan didukung sebanyak 120.000 Ribu penonton yang hadir memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno, menjadikan pertandingan tersebut sebagai pertandingan hidup mati antara kedua tim yang berakhir dengan skor kacamata dan dilanjutkan ke babak adu tendangan 12 pas.

Lima penendang pertama Timnas Indonesia telah disiapkan oleh pelatih Wiel Coerver yaitu sang kapten Iswadi Idris, Junaedi Abdillah, Waskito, Oyong Liza, dan Anjas Asmara. Tiga penendang pertama Indonesia berhasil membuat Indonesia unggul 3 – 2 atas Korea Utara. Namun tendangan dari pemain keempat yaitu Oyong Liza berhasil ditepis oleh kiper Korea Utara saat itu yang membawa penalti tersebut ke babak sudden death.

Di babak sudden death ini, Anjas Asmara menjadi penendang penentu bagi Indonesia, namun lagi-lagi tendangan tersebut gagal masuk ke gawang dan berhasil ditepis oleh kiper korea utara saat itu yang menyebabkan korea utara mengungguli timnas Indonesia dengan skor 4 – 3 hingga Indonesia maupun Korea Utara pun sama-sama dapat memanfaatkan penalti dengan baik hingga skor 5 – 4. Hingga akhirnya kesempatan penalti terakhir Indonesia yang diambil oleh Sueb Rizal melambung tinggi dan gagal membawa Timnas Indonesia ke Montreal hingga penonton pun membludak masuk ke dalam lapangan.

Penulis: Faisal Muchsin (FISIP’19, Ilmu Informasi dan Perpustakaan)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *