Bagi sebagian orang, sepakbola merupakan sebuah hal yang simple dan mudah untuk dimainkan. Bahkan, sepakbola digunakan sebagai wadah untuk berkumpul dengan kolega dan bersenang-senang. Dilabeli sebagai olahraga yang merakyat, membuat sepakbola hampir bisa dimainkan oleh semua kalangan masyarakat. Nggak bisa dipungkiri juga kalo animo masyarakat pada sepakbola juga sangat tinggi. Semakin kesini, sepakbola juga mengalami beberapa evolusi dari dekade-dekade sebelumnya. Dari segi tactical play, individual play, club development, bahkan atmosfer penonton pun juga berevolusi dari waktu ke waktu. Pada era ini, yang cukup disoroti ialah tentang pengembangan individual play atau kualitas individu pemain. Kualitas individu pemain sendiri meliputi banyak hal, seperti skill dasar, kemampuan memainkan posisi-nya pada tim, dan visi dalam bermain sepakbola.

Khususnya, visi bermain adalah hal yang disorot oleh berbagai kalangan penikmat sepakbola. Mereka berpendapat bahwa visi pemain dalam sepakbola merupakan sebuah faktor yang menentukan apakah pemain tersebut layak dilabeli sebagai ‘pemain berkualitas’ dan ‘pemain tidak berkualitas’. Sebelum itu, mari kita mundur ke belakang dulu sebenarnya visi dalam bermain sepakbola itu apa? Bentuknya serta pengimplementasian dalam sepakbola-nya bagaimana?

Dalam dunia sepakbola sendiri, visi dalam permainannya diartikan sebagai kesadaran para pemain dengan pengamatannya terhadap keadaan sekitarnya lalu melakukan pengambilan keputusan atas hasil pengamatan terhadap keadaan sekitarnya tadi. Singkatnya, visi digunakan sebagai faktor pengambilan keputusan seorang pemain dalam berbagai situasi dalam permainan sepakbola dan paham apa yang akan ia lakukan pada situasi tersebut. Dalam dunia sepakbola sendiri, akan terjadi bermacam-macam situasi permainan yang satu sama lainnya berbeda dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Kesadaran pemain atas sebuah situasi dalam permainan dan bagaimana ia akan bertindak selanjutnya sangat diperlukan oleh pemain, khususnya mereka-mereka yang sudah berkancah pada level pro. Sepakbola bukan hanya sebuah olahraga yang megandalkan kekuatan fisik dan kerja keras saja, tapi kecerdasan otak juga diperlukan agar bisa memenangkan sebuah pertandingan.

Sementara itu, bentuk visi dalam permainan sepakbola bisa bermacam-macam tergantung situasi yang sedang terjadi. Bisa dalam bentuk pergerakan tanpa bola untuk membuka ruang pada rekan se-tim agar mendapatkan ruang kosong, lalu bisa juga berupa passing kunci pada rekan se-tim saat melihat celah kosong pada pertahanan lawan, dan masih banyak lainnya. Sebagai dasar dalam bermain sepakbola saja sudah diajarkan apabila sedang menguasai bola, pandangan harus ke atas melihat situasi dalam permainan bukan malah terpaku melihat ke bawah (bola). Dari hal tersebut, sudah terlihat bahwa sebenarnya visi dalam sepakbola sudah diajarkan pada teknik-teknik dasar. Sebagai contoh, apa yang dilakukan Romelu Lukaku pada saat Belgia berhadapan dengan Jepang pada babak 16 besar Piala Dunia 2018, bisa menjadi contoh nyata bagaimana visi dalam permainan sepakbola dengan situasi tertentu sangat penting untuk mencetak gol.

Pada dua paragraf sudah dijelaskan bahwa visi dalam sepakbola itu seperti apa serta bentuk dan pengimplementasiannya. Dari situ, kita juga bisa mengambil kesimpulan bahwa kualitas pemain sangat dipengaruhi oleh bagaimana visi-nya saat bermain di lapangan. Jadi, jika bermain sepakbola dengan mengandalkan skill individual dan kekuatan fisik saja tidak membuat menjadi pemain yang berkualitas, justru jika ada kombinasi antara kekuatan fisik dan kecerdasan otak bisa jadi membuat pemain tersebut memiliki kualitas. Terlihat sederhana tapi, hal-hal dasar tersebut yang memiliki dampak  besar terhadap sebuah pertandingan sepakbola.

 

Penulis: Gilang Indana (FISIP, Antropologi 2019)

By admin

One thought on “Sepakbola Bukan Hanya Sekedar Kontrol dan Passing Saja!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *