Leeds United adalah salah satu klub Premier League yang baru saja promosi dari Divisi ke-2 kasta sepakbola Inggris yaitu Div. Championship. Untuk pertama kalinya setelah tahun 2003-2004, mereka Kembali menginjakkan kakinya di Premier League. Setelah menjuarai kasta ke-2 sepakbola di Inggris, mereka dipastikan Kembali ke kancah tertinggi sepakbola di Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Banyak sekali faktor yang menyebabkan Leeds bisa menjuarai Championship dan Kembali promosi ke Premier League setelah 16 tahun tidak pernah kembali. Salah satu faktor sekaligus indicator yang memiliki peran besar terhadap melesatnya prestasi Leeds ialah sang juru taktik Marcelo Bielsa.

Marcelo Bielsa merupakan pelatih yang berkebangsaan asli Argentina, dimana culture sepakbola-nya sangat kental pada warga negaranya. Bielsa memulai perjalanan karir di Leeds United pada 15 Juni 2018 menggantikan pelatih sebelumnya, Paul Heckingbottom. Dengan tawaran kontrak sepanjang 2 tahun, Bielsa memecahkan rekor sebagai pelatih termahal yang pernah di rekrut oleh Leeds. Pada musim pertamanya sebagai pelatih Leeds musim 2018-2019, Bielsa langsung mencatatkan rekor sebagai pelatih Leeds pertama yang memenangkan empat pertandingan awal secara beruntun dan mendapatkan gelar Manager of The Month August 2018.

Namun, pada musim pertamanya juga ia menorehkan kontroversi, pada saat menjelang pertandingan melawan Derby County asuhan Frank Lampard kala itu di tanggal 11 Januari 2019. Pada sehari sebelumnya, Bielsa sengaja mengirimkan “spy” atau mata-mata untuk mengintip latihan dan persiapan Derby County jelang melawan Leeds United. Hal itu, sontak membuat Frank Lampard agak kesal melihat apa yang Bielsa lakukan. Dan, pihak EFL langsung menyelidiki perihal insiden yang disebut “spygate” oleh para awak media di Inggris. Dan, Leeds United juga dikenakan sanksi sebesar £200,000 oleh EFL karena telah melanggar regulasi yang ada. Singkat cerita, pada akhir musim tersebut Bielsa gagal membawa Leeds promosi dan gagal juga menjadi juara di Championship.

Pada musim kedua, Bielsa langsung tancap gas untuk memulai musim keduanya Bersama Leeds dengan mendatangkan beberapa pemain yang dikontrak beberapa tahun dan beberapa pemain pinjaman. Dan benar saja, pada musim kedua Bielsa melatih langsung saja Leeds menyabet gelar juara pertama-nya sebagai pelatih di klub tersebut. Otomatis Leeds promosi ke Premier League  untuk musim 2020-2021, sekaligus pertama kalinya sejak 2004. Gaya permainan Bielsa yang melakukan pressure ketat dengan intensitas yang sangat tinggi menjadi salah satu kunci untuk menjuarai Championship.

Gaya permainan Bielsa tersebut dinamakan ‘Murderball’. Dengan intensitas pressing terhadap lawan yang tinggi dan cenderung marking man to man, gaya permainan tersebut bisa “membunuh” kreativitas dan set play klub yang melawan Leeds. Gaya permainan Bielsa bisa dikatakan hampir mirip dengan Gegenpress yang diterapkan oleh Jurgen Klopp, yang membedakannya ialah tingkatan dan intensitas yang Bielsa terapkan pada gaya permainan ini jauh lebih tinggi ketimbang Gegenpress, sehingga sampai-sampai disebut “Murderball” yang terdapat kata ‘pembunuhan’ pada gaya permainan itu. Hasilnya, pemain lawan kesusahan untuk mengembangkan permainannya dan susah juga untuk melakukan ball possession. Yang menjadi fokus Bielsa pada penerapan gaya bermain ini ialah akselerasi kecepatan dan stamina yang kuat. Sebab, dengan rentang waktu 90 menit sangat menguras tenaga apabila melakukan pressing dengan intensitas tinggi ini, bisa-bisa beberapa pemain akan mengalami kelelahan dan kondisi tubuh yang tidak stabil sehingga tidak fokus. Diungkapkan oleh salah satu pemain Leeds United saat melakukan wawancara dengan media, kapten dari Leeds United yaitu Liam Cooper mengungkapkan betapa “brutal”-nya sesi latihan, bahkan ia mengungkapkan kalau memainkan laga Premier League lebih ringan beban fisiknya ketimbang Latihan persiapannya sendiri. Di beberapa sesi Latihan Leeds United yang diposting pada Instagram atau twitter mereka, terlihat bahwa fisik mereka digembleng habis-habisan walaupun dengan kondisi liga yang masih jalan dan hanya baru memainkan beberapa pertandingan. Bielsa tidak menghiraukan waktu jalannya Premier League yang dimainkan pada akhir pekan, yang ia pikirkan ialah selama disela-sela waktu antar pertandingan tersebut ia harus menekan kondisi fisik pemainnya agar bisa memainkan ‘Murderball’ secara maksimal.

Disisi lain, ‘Murderball’ tidak hanya merugikan lawan saja. ‘Murderball’ diibaratkan seperti pisau bermata dua, artinya ia bisa merugikan Leeds juga. Mengapa? Dilihat dari sesi Latihan yang cukup ‘brutal’ dan sangat berat, serta rentang Premier League yang panjang bukan tidak mungkin nantinya pemain akan mengalami kelelahan saat liga masih berjalan separuh musim bahkan sebelum separuh. Tapi, Bielsa berkaca pada jumlah pertandingan kasta ke-2 yaitu Championship yang memainkan jumlah pertandingan yang lebih banyak ketimbang Premier League, Bielsa bisa bertahan Bersama skuadnya hingga akhir musim bahkan meraih gelar juara. Well, kita lihat bagaimana perjalanan sang juru taktik Marcelo Bielsa dengan Leeds United pada Premier League dimusim ini.

 

Penulis: Gilang Indana (FISIP, Antropologi 2019)

By admin

One thought on “Marcelo Bielsa dan ‘Murderball’”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *